Jadwal Sholat

jadwal-sholat

Diskon Domain

Hosting Unlimited Indonesia

Search

Kamis, 27 November 2008

Cari Tahu Siapa PCMB & PCML

Hari ini aku melewati jalan baru yang lebih cepat dari rumah menuju kantor di pancoran. Pada awalnya sama yaitu pk 08.00 aku melewati pasar cipulir yang macet itu trus ke arah blok M menuju RSPP nah dari situ pointnya aku ambil ke arah jalan Gunawarman (terdengar asing bagiku)..tp aku coba aja tancap gas trussss sampai akhirnya bertemu dengan apotik Senopati, lalu tembus-tembusnya ke tarki, Trans TV dan menaiki jembatan hingga sampai juga ke Pancoran he2.

Kali ini mau nulis ttg PCMB dan PCML ah...
PCMB adalah link PCM (Pulse Code Modulation) di Abis Interface (interface antara BTS dengan BSC). Rangenya dari 0 - 117 dan utk eBSC dari 0 - 669

PCML adalah link PCM juga, yang mengindentifikasikan physical LICD board dan port dimana PCMB terhubung. (LICD blm ngerti jg pastinya, dia punya port jg atw disebut jg PCM interface boards)

aduh dah ngantuk nulisnya n mau siap"kul dlu ...bersambung saja klo bgitu..
*******lanjut, nilai pcmb ternyata linknya saja, seperti yg sdh disebutkan di atas bernilai 0-117
sedangkan pcml = port dari pcmb tu terhubung, ditunjukan dengan nilai contoh 1-2b, 3-2a, dll

Senin, 24 November 2008

Sehari dua hari kemarin

Kemarin minggu badan ini trasa berat dan lelah, ga tw kenapa pdhal pagi"nya bisa bersih"rumah. Sabtunya ngapain ya ?? oh iya bis sorenya dtg ke swable mendengarkan laporan si super kecil bawel itu, lalu stelah magrib kami mkn pempek di dekat McD perempatan pesanggrahan. Selesainya aku ke giant ciledug mencari toolbox bwt peralatan bokap yang terlihat berantakan di rumah.
Tapi ternyata aku ngga cm bli itu, dari pengaman laptop,tang, baut, snack, sampai pengharum ruangan pun aku ambil...hihihi :)
O iya disela" waktu itu aku mnerima telepon dari si caddie nenny yang menanyakan saluname yang salah dari DBCR (Database Change Request) site yang sudah aku buat. "hmm salah dimana nen?? kan yg belakangnya 000 (o 3x kan)?" tanya aku.
Ia menjawab : "iya udah kaya gitu tapi terdeteksi double di toolsnya"..
hmm padahal site ID udah sesuai dengan yg ditentukan, jadi ga mungkin salah dan aku sdh cek di DB aku klo site ID tersebut tidak ada yg punya lagi. hmm berarti toolsnya lagi ngambek tuh ma kamu hahahahhaha. :P

Senin, 06 Oktober 2008

IN dan prepaid charging

Sumber :ejlp12 @yahoo.com

Kalau saya lihat bagaimana IN digunakan di jaringan telekomunikasi di Indonesia ini maka saya lihat IN cenderung identik dengan prepaid charging yaitu tempat dimana rating dilakukan untuk pelanggan prabayar.

Fungsi utama IN adalah sebagai SCP (Service Control Point) yaitu sebagai otak dimana eksekusi logic untuk pengontrol call berlangsung. Lalu darimana asal mula IN digunakan sebagai element rating/charging untuk pelanggan prabayar?

Fitur online charging mulai ada dalam spesifikasi CAMEL 2 oleh sebab itu fungsi rating (penentuan biaya panggilan) dapat dilakukan secara internal yaitu pada mesin IN itu sendiri maupun secara eksternal.

ETSI European Norm (EN) 301 140-1 (‘Capability Set 2’, CS2) yang merupakan induk dari CAMEL mendefinisikan sebuah elemen bernama SDP (Service Data Point) yang berisi tabel call rating atau inforamsi account pelanggan. Jadi rating call tiap pelanggan dilakukan dengan cara mengambil informasi rating yang spesifik untuk pelanggan tersebut dari SDP. SDP dapat terintegrasi dalam IN atau merupakan elemen yang terpisah.

Bagaimana integrasi antara SDP dengan SCP tidak didefinisikan pada ETSI EN 301 140-1 maupun pada CAMEL sehingga biasanya integration point ini menggunakan protokol yang dibuat sendiri oleh vendor produk IN.

Kadang menjadi salah kaprah bahwa rating/charging yang dilakukan di IN hanya bisa digunakan untuk pelanggan prabayar.

Protokol manajemen jaringan

Sumber : ejlp12 @yahoo.com

Manajemen jaringan atau manajemen elemen pada jaringan telekomunikasi merupakan hal yang amat penting karena jaringan telekomunikasi dituntut untuk dapat melayani terus-menerus. Ketika saya mulai memasuki dunia telekomunikasi, saya baru mendapatkan sistem-sistem yang hampir selalu dirancang dengan high availability dan service availability yang tinggi. Kondisi tersebut dicapai dengan cara rancangan yang memperhatikan high availability baik pada elemen hardware maupun software. Selain itu keadaan elemen harus selalu dimonitor untuk mengetahui akan performansi elemen agar kesalahan (fault) maupun kondisi yang tidak diinginkan pada sistem dapat diketahui dengan cepat.

Menurut pengalaman saya, protokol yang paling sering digunakan untuk memonitor elemen pada jaringan telekomunikasi adalah SNMP (Simple Network Management Protocol). SNMP biasanya digunakan untuk memonitor performansi hardware seperti pengguaan CPU, memory, disk, serta parameter-parameter performansi dalam sistem (software) misalnya besarnya queue yang terpakai, penggunaan lisensi.

Mengapa SNMP?

Alasan mengapa SNMP banyak digunakan adalah karena SNMP adalah standar protokol yang memang dirancang untuk memanajemen jaringan dan SNMP merupakan protokol manajemen yang sederhana.

Sederhana tidak berarti mudah, SNMP cukup kompleks dan perlu tenaga yang lebih untuk mempelajari secara detail protokol ini terutama untuk mempelajari Structure of Management Information (SMI).

CMIP: Protokol standar manajemen untuk elemen telekomunikasi

SNMP bukan satu-satunya protokol yang bisa digunakan untuk keperluan manajemen jaringan seperti monitoring dan pengiriman alarm dan pengubahan parameter. Protokol yang telah menjadi standar untuk jaringan telekomunikasi adalah Common Management Information Protocol (CMIP) yang dibuat oleh ISO yang kemudian diadopsi sebagai standar oleh organisasi telekomunikasi dunia ITU-T yang dispesifikasikan pada recommendation series X.700.

Konsep CMIP hampir sama dengan SNMP tetapi CMIP memiliki lebih banyak fitur seperti authorization, access control,reporting yang lebih flexible, mendukung segala jenis tipe action.

3GPP, organisasi yang membuat standarisasi untuk jaringan GSM/UMTS/IMS/LTE juga menggunakan CMIP sebagai protokol manajemen jaringan (Lihat beberapa spesifikasi tentang Solution Set untuk Integration Reference Point pada seri 32).

Walaupun CMIP merupakan standar protokol yang diratifikasi oleh banyak organisasi telekomunikasi berkelas global tetapi pada kenyataannya SNMP masih lebih sering digunakan di jaringan operator.

Protokol lain yang didesain untuk manajemen jaringan misalnya:

Selain protokol-protokol tersebut kadang vendor juga menggunakan protokol sendiri atau menggunakan protokol yang umum seperti CORBA, HTTP.

Kamis, 31 Juli 2008

Just remind me

Jenis STM itu yaitu adalah:
STM-1 (63E1),
STM-4 (2x lipat STM-1 yaitu 126E1 + 2 signalling)
STM-16

Space Diversity di antena untuk meningkatkan uplink quality, digunakan terutama jika link berjarak jauh.

Utilisasi adalah perbandingan antara trafik actual yang ada di lapangan dengan kapasitas maksimum dari TRX di BTS menghandle suatu trafik.
Blocking tinggi dapat menyebabkan utilisasi rendah.
Trafik Normalisasi Blocking digunakan untuk mengetahui kebutuhan akan dipasang berapa TRX dalam menghandle suatu trafik. Misal ada trafik 10 Erlang dengan blocking 20%, lalu kalikan trafik itu dgn blocking sehingga mjd 2 erlang dan trafik mjd 12 erlang..nah dr 12 erlang itu bisa diketahui berapa trx yg dibutuhkan utk mengakomodir trafik di daerah itu.

Trafik blocking rate without DR maksudnya adalah trafik yang benar"terblok tanpa Directed Retry (DR) , artinya trafik yang dialihkan ke site lain.

Site ID GSM900 sel indoor ada unsurnya "i", sedangkan DCS ada unsur "x"nya(itu klo di Tsel sih,hehehe). Kalau ubah GSM ke DCS atau istilahnya swap band misal dari GSM ke DCS, maka perlu diperhatikan apakah LAC dan CI-nya berubah atau tetap, dan juga NEid-nya diubah atw tidak.

Kamis, 24 Juli 2008

Drive Test KPI

Call Setup Successful Rate (%) = ((Total number of successful setup)/(Total number of calls attempt))*100
Total number of successful setup = Total number of mobile originating calls that are successfully assigned a traffic channel (TCH).
Total number of calls attempt = Total number of times the test mobile attempts to make a mobile originating call.

Dropped Call Rate, also known as TCH drop rate
Dropped Call Rate (%) = ((Call set-up Success) – (number of completed calls)) / (Call set-up Success)*100

HOSR
Handover Success Rate (%) = ((Total number of successful handovers) / (Total number of handover attempts))*100

Handover per call = (Total number of Handover success / total number of call setup success)


Drive Test Troubleshooting

Ideally, the drive testers do on site evaluation to decide whether DT result is in acceptable value or not? If the result of dive test is not in acceptable value following step can be done as quick solution:
1. If the RxLevel is bad compared with coverage plot :
- Please describe contour condition. If there’s a hill/valley, trees, building, or any other obstacles take a picture to justify the condition
- Please check the antenna tilting, antenna azimuth and terrain condition. Inform all of this information in DT Report.
2. If sector of site that will be drive tested face to the sea and there is other coverage that face to the sea, dedicated mode must be in locked mode.
3. If the SQI is bad, please check used Speech codec whether it is in FullRate, HalfRate, and EFR. Ideally EFR gives the best SQI value
4. If RxQual is bad, please check whether hopping is active or not from Hopping Channel value in “Current Channel” Window in TEMS. If no hopping is active, there is possibility of Interference on BCCH channel. Do scan channel in idle mode to get info from where interference come from.

Minggu, 20 Juli 2008

Protocol Definition

Kumpulan dari beberapa aturan yang berhubungan dengan komunikasi data antara beberapa alat komunikasi supaya komunikasi data dapat dilakukan dengan benar. Protocol adalah yang menspesifikasikan secara detail bagaimana komputer berinteraksi, termasuk didalamnya format pesan yang mereka tukar dan bagaimana kesalahan ditangani. Hubungan telekomunikasi mencerminkan banyak aspek dari protokol dalam arti diplomatik, beberapa sinyal diubah dengan mengirim dan menerima perangkat, misalnya, diistilahkan dengan berjabat tangan dan berkenalan. Tiga aspek utama komunikasi yang diperhatikan oleh protokol adalah: bagaimana data direpresentasikan dan dikodekan, bagaimana ditransmisikan, dan bagaimana kesalahan dan kegagalan diketahui dan ditangani.


sumber : Kamus Komputer dan Teknologi Informasi

Senin, 16 Juni 2008

Call Setup Process Part2

Lanjutan dari yg part 1....

Kemudian MSC memeriksa keabsahan atau auhentication dr pelanggan. Dalam penjelasan ini , pelanggan sudah sah jadi kita akan menskipnya. Setelah itu MSC menginisiasikan chipering dari data yang telah dikirim ke kanal/channel. Channel dichip agar sebisa mungkin dilindungi dari penyadapan. Chipering di radio link dapat dilakukan dalam 3 tahap.
Langkah pertama, BSS mulai mengambil data yang telah dichip dari mobile tapi tetap melanjutkan pengiriman data secara clear. Selama mobile tidak dinformasikan tentang chipering, semua data yang diterima dari mobile akan mengalami error. BSS mengirimkan CHIPERING MODE COMMAND ke mobile. Mobile akan dapat menerima pesan ini sebagai transmisi dari BSS tetap dalam keadaan clear atau bersih.
Langkah kedua, Mobile menerima pesan dan membolehkan chipering dalam arah transmit dan receive. Ini akan menghasilkan semua data yang diterima BSS error.(BSS tetap transmit data dalam keadaan clear). Proses pesan ini dikirimkan secara chipering. BSS akan menerima pesan ini sebagaimana yang diharapkan akan diterima.
Ketiga dan langkah terakhir berada di dalam chipering handshake. BSS mengijinkan chipering dalam arah pemancar. Dari point ini chipering diijinkan pada kedua arah (pmancar dan penerima).
BSS membalas ke MSC,mengndikasikan bahwa chipering telah sukses (enabled) .

----------RR Connection Establishment Completed----------------

di point ini koneksi telah disetup antara mobile dengan MSC. Dan selanjutnya BSS akan berfungsi sebagai konduit untuk menstransport pesan signalling antara mobile dgn MSC.

Call Setup Process Part1

Sesuai dengan permintaan comment sebelumnya kali ini kita bahas ttg proses call setup atau proses ketika MS menghubungi MS lain (jalur ketika kita menelpon seseorang sampai dapat terkoneksi sehingga kita bisa melakukan sebuah percakapan). Baiklah kita mulai,..

Pertama" ketika kita melakukan panggilan dengan menekan sebuah tombol angka"di hp, maka terjadilah yang namanya RR (radio resource) connection establishment, yaitu informasi yang akan kita kirim berupa nomor" itu dikirimkan ke MSC, nah agar dapat dikirim ke MSC maka dibutuhkan RR connection ke MSC. RR connection establishment ini ditrigger/dipacu dengan mengirimkan channel request message (memakai RACH). Pesan ini lalu request ke BSS agar menyediakan alokasi utk RR utk RR connection setup. Handset/HP kita lalu menunggu assignments di AGCH (Access Grand Channel) dan mendengarkan AGCH utk membalas. BSS mengalokasikan TCH ke handset. Alokasi TCH memberikan frekuensi dan sebuah time slot disana. Setelah handset/mobile menerima pesan ini, mobile hanya menggunakan resource yg spesifik utk berkomunikasi dengan mobile network.
BSS mentransmisikan radio resource assignment ke mobile via AGCH, pesan tsb mengandung time dan frequency corrections. Time correction memungkinkan mobile mentransmisikan tepat pada waktunya agar dapat mencapai BSS tepat hanya pada slot yg sdh disediakan. Pengaturan timing dan frekuensi berdasar advice dari BSS merupakan langkah yg diperlukan agar transmisi dari mobile dapat sampai ke base station pada waktu yg tepat dan frekuensi yg benar. Mobile melakukan tunes (mengatur/menset) kembali dari AGCH dan tunes ke radio channel yg dituju. Ini adalah pesan pertama yg dikirim setelah tuning ke channel. Mobile menginisiasikan LAPm connection dengan BSC dengan mngirimkan pesan sebuah Set Asynchronous Balanced Mode (SABM). BSS membalasnya dgn Unnumberred Acknowledge (UA) utk melengkapi LAPm setup handshake (teman"pernah dengar three way handshake ngga?semacam itulah dan belum bisa membaca artikel ini terlebih dahulu --> three way handshake). BSS menerima CM service request message dari mobile dan forms sebuah layer message ke-3(network). BSS kemudian 'piggy back' ke SCCP connection request message.
bersambung dlu ya.........

Kamis, 05 Juni 2008

bcch freq planning

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam perencanaan frekuensi BCCH GSM , yaitu:
1. Alokasi frekuensinya

2. Adjacent dan Co channel interference baik antar site itu sendiri maupun sekitar site
3. Prediksi coverage tiap sektor
4. Parameter seperti PA output, tilt, azimuth, cable feeder type and length, height of antenna

5. Neighbour dalam proses Handover
6. Height profile / Contour

Perhatikan alokasi frekuensi yang ada, dataran sekitar site apakah tinggi rendah, interferens dengan frek KAI atau tidak (biasanya utk DCS), kemudian penentuan neigbour apakah saat handover frekuensi yang ada sama atau berdekatan. Usahakan jika masih bisa tdk terjadi adjacent tetapi jika tidak bisa mk dicari kemungkinan yang terbaik atau juga bisa dilakukan retune frekuensi sekitar site. Kemudian hasil perencanaan kita bisa kita lihat dengan planning tool seperti Asset atau Netact.





Tanya : Terus gimana mas cara nge-plan-nya?
Jawab : mau tau lebih detil? kirim pesan saja ke saya soalnya perlu waktu lebih menjelaskan gimana teknik-teknik meretune seperti permainan sudoku bahkan bisa jadi lebih sulit dari sudoku hehehe :D

*Glossary :
1. BCCH (Broadcast Control Channel) = frekuensi yang dipancarkan secara terus menerus/kontinue dengan daya maksimum dan juga berfungsi sebagai main signalling. Oleh krn itu BCCH tidak dan tdk boleh dihop.
2. Adjacent = berdekatan dlm arti frekuensinya misal arfcn 18 berarti yang adjacent adalah arfcn 17 dan 19
3. Co channel = kanal sama, dalam arti freknya (co channel interference)
4. Coverage = cakupan sinyal dari site
5. PA = Power Amplifier atau juga bisa berupa power dari modul transceiver
6. Retune = tune/atur ulang freknya

Rabu, 28 Mei 2008

Network Planning

Kali ini bahasan kita adalah tentang Network Planning. Digambarkan seperti sbb...
Proses Network Planning kita bagi menjadi langkah"berikut ini :
1. PRE PLANNING;
- Dimensioning = memberikan konfigurasi awal jaringan sbg hasilnya. Targetnya adl coverage dan quality. Basic input dimensioning yaitu coverage requirement, quality requirement (drop call rate, call blocking), Frequency Spectrum (number of channel including information about possible needed guard bands, subscriber information), Trafik tiap user, busy hour value, services.

2. PLANNING;
Memberikan ide awal ttg lokasi dan juga jarak antar sites. Nominal plan adalah titik awal utk survey dan menggunakan planning tool untuk coverage planning.
- Coverage planning
- Capacity planning
- Site Survey

3. DETAILED PLANNING;
Mencakup frekuensi, adjacency, dan parameter planning. Planning tool mempunyai algoritma utk frek planning dan merupakan fase kritikal di network planning. Jumlah frekuensi yg bs digunakan selalu terbatas dan oleh sebab itu tugas disini adalah menemukan kemungkinan solusi terbaik. Neighbour plan dengan melihat 2 site pertama di lingkungan BTS". Untuk Radio Planning tanggung jawabnya adalah mengalokasikan parameter" spt handover control, power control dan menentukan location area lalu set parameternya.
- Frekuensi Planning
- Neighbour Planning
- Parameter Planning

4. VERIVICATION & ACCEPTANCE
Coverage,capacity, dan quality yg hrs memenuhi KPI yang ditetapkan sebelum network acceptance. Drive testing juga diperlukan utk verifikasi network functionality.

5. OPTIMIZATION
Setelah jaringan sudah beroperasi, planning dan optimization blm berakhir karena network optimization adalah proses yang berkelanjutan. Utk optimisasi, input yang dibutuhkan adalah semua informasi ttg jaringan dan statusnya. Statistik jaringan, alarms, dan trafik itu sendiri dimonitor secara baik. proses optimisasi meliputi baik network level measurements dan field test measurements utk menganalisa masalah dan juga mengindikasikan masalah yg berpotensial terjadi.

Kamis, 22 Mei 2008

3G Extension Band


Introduction
In order to continue realising these benefits and to accommodate future growth, an issue of
importance to all mobile operators is that of secure and predictable access to spectrum. The
objective of the GSM Association, representing over 650 mobile operators in more than 210
countries and territories, is to guarantee the use of 2.5GHz as an extension band for 3GSM and
to ensure its global availability.
Governments and Regulators are under increasing pressure to liberalise the allocation of
wireless service licences and allocate spectrum, previously identified with a particular type of
service, to new services that are being introduced on a fragmented basis. If followed without
international coordination, such policies will destroy the major benefits of global mobile
interoperability, including roaming and scale economies. In particular, Regulators may
permit the 3G extension bands to be used in a manner inconsistent with a harmonised and
structured band plan.
GSMA Policy Positions
Mobile services have transformed economies in every part of the world,
with global penetration of mobile subscribers now exceeding that of fixed
lines in most regions. The contribution of the mobile industry to national
GDP, employment and government revenue is substantial in the vast
majority of countries around the globe.
3G WCDMA is a proven standard with over 20 million users across 70 networks in 32 countries.
Governments should, in parallel with operators, invest in the long-term future of 3GSM
networks and ensure that capacity for growth is secured, via the allocated 2500-2690 MHz
"3G Extension Band."
To achieve their full potential, 3GSM networks will need spectrum, in addition to the ITU "Core
Band", in order to provide capacity for:
Increasing numbers of subscribers
Ongoing development of new 3GSM broadband applications
Delivering ubiquitous mobile broadband
This is the same situation as was experienced in the successful growth of 2G networks
To maximize the value to all parties, the GSMA believes that governments should follow the
harmonized and structured channeling arrangements, for the band 2500-2690 MHz,
recommended by the ITU.
The ITU has recommended three options for the 3G extension bands (see illustration below).
The first two options provide structured channeling arrangements. They provide separation of
FDD and TDD blocks and have the advantage of enabling 3GSM to be deployed with minimum
risk of interference. The GSMA supports these first two options.
Structuring the band in this way, within individual countries and/or regions, will encourage
investment in networks and services, through minimizing the risks and costs associated with
interference management.
Harmonising the band plan globally will increase still further the investment incentives and
ensure that economies of scale are maximized.
A harmonized and structured band plan will facilitate seamless roaming and network
interoperability, at a global level.
GSMA Policy Positions continued

The GSMA believes that the adoption of the ITU’s third option and, therefore, the co-existence
of FDD and TDD, across the same band, would have a significant, negative impact on the
efficiency of that band's use. In turn, this would have a negative impact on the future benefits
to consumers from 3GSM mobile broadband.
The co-existence of FDD and TDD, across the band, would permit technologies to be deployed
within the band that could create interference.
Within individual countries, an unstructured band plan would reduce incentives to invest and
increase industry costs.
More broadly, a lack of global commitment to a harmonized and structured band plan would
reduce economies of scale, for both operators and manufacturers. It would increase costs and
result in slower times to market for innovative mobile data services.
In Europe, the ECC has reached the conclusion that the first two options are the most
appropriate. The GSMA supports this conclusion.
The GSMA believes that a harmonized and structured band plan will bring benefits to
consumers, governments and industry, in the form of faster times to market for innovative
services and lower prices due to scale economies. A harmonized plan will also facilitate
seamless roaming and network interoperability, at a global level, and extend the significant
benefits of global 2G roaming to 3G.
The GSMA believes that interference from satellite services could severely affect 3GSM systems
and, in some areas of the world, satellite services are already interfering with the 3G extension
band. It is possible for satellites of one country to interfere with the spectrum of many
neighbouring nations, due to the size of their footprints.
The GSMA recommends that governments introduce policies that only allow satellite systems to
operate, provided they do not cause harmful interference to 3G in the 2.5 to 2.69 GHz band. In
this regard, the GSMA supports the ITU's WRC-07 agenda item 1.9, aimed at reducing the
power of satellite systems in the 3GSM band.
For further information, please contact:
Tom Phillips
Government and Regulatory Affairs Officer, GSM Association
Mobile: +44 (0) 7917 046595
Email: tphillips@gsm.org
GSMA Policy Positions continued

Spectrum Harmonisation

Source : GSM world

Introduction
An important contributor to GSM’s unrivalled success is the global harmonisation of
standards and spectrum bands, resulting in unparalleled co-operation and support between all
those supplying, operating and using the technology. This has enabled manufacturers and networks
to realise significant economies of scale and to offer seamless global roaming
services, to the benefit of consumers worldwide. Harmonisation must be preserved to enable
the global mobile industry to continue delivering the benefits that mobile users have come to
expect and that are valued so highly. The continued economic success of mobile services creates
the climate for future investment in 3GSM technologies, which will deliver still greater
benefits to consumers.
The GSM Association, consisting of over 650 mobile operators and more than 150
manufacturers and suppliers, supports harmonised, open standards and globally coordinated
spectrum bands, in a world of competition among standards.
Today's GSM platform is a uniquely successful wireless technology and
an unprecedented story of global achievement. In less than ten years since
the first GSM network was commercially launched, it has become the
world's leading and fastest growing mobile standard, spanning over 200
countries. Today, GSM technology is used by more than one in six of the
world's population and it is estimated that there are well over 1.25 billion
GSM subscribers today. Beyond GSM, WCDMA and its 3G evolutionary
path (3GSM*) is already in use by more than 70 live networks with over
20 million subscribers in 32 countries and provides a clear evolutionary
path towards full ubiquitous mobile broadband use.
* 3GSM is the collective term for 3G WCDMA technology evolution that includes 3G WCDMA,
‘evolved 3G’ and ‘super 3G.’

The GSMA believes that the harmonisation of standards and frequency bands brings benefits to
consumers and has been a significant factor in the success of the mobile industry. In particular:
Global spectrum planning, led by the International Telecommunication Union (ITU), is
of crucial importance and is the best way to secure the cooperation of national
governments and industry in developing harmonised frequency bands.
Industry has proven to be the most effective party for delivering standards
harmonisation.
The GSMA actively supports industry-led standards development bodies such as
3GPP.
The GSMA believes that a level regulatory playing field for licensees who chose the GSM
and/or 3GSM* family of standards, vis a vis licensees that chose other technologies, is
essential in creating a predictable and stable environment that maximises long-term investments
and benefits to consumers. In particular:
The GSMA opposes policies that, in the name of "technology neutrality", discriminate
against GSM and 3GSM*.
Governments and Regulators should be aware of the variety of ways in which
technology bias can be introduced, for example in specifying minimum data rates or
allocating frequencies in amounts of bandwidth and channel definitions that exclude
certain technologies.
The GSMA calls upon Regulators to examine closely their policies regarding technology
neutrality and ensure that opportunities for bias are eliminated and harmonisation
achieved.
GSMA Policy Positions

Kamis, 15 Mei 2008

Bridging the optimization gap

sumber: ericsson
TEMS Visualization is revolutionizing the way network operators troubleshoot their Ericsson networks. Ericsson's infrastructure customers now can find problems that were impossible to pinpoint before. TEMS Visualization gives them this ability by analyzing the event-based data captured directly from the infrastructure.
By analyzing specific network data from the switch, TEMS Visualization bridges the gap between traditional performance management solutions and drive test tools.Use TEMS Visualization to:
Trap, track, reproduce, and eliminate problems that were previously virtually impossible to find
Understand problems by viewing full details of all calls made on an Ericsson network - all calls, all subscribers, all phones
Drill-down into subscriber issues easily using powerful filtering capabilities and fast browsing functions

Tems cell planner

TEMS™ CellPlanner is Ericsson's advanced tool for design, rollout, and optimization of mobile radio networks. Developed by Ericsson, TEMS CellPlanner provides superior planning and optimization capabilities to save time and money during network deployment of 2G, 2.5G, and 3G networks.

TEMS CellPlanner is built on the latest Java platform and is designed for class-leading accuracy and speed in planning and optimization tasks. It is a graphical and easy-to-use PC-based tool.

TEMS CellPlanner assists the user in performing complex tasks, including network dimensioning, traffic planning, site configuration, frequency, code planning and Automatic Cell Planning . Features such as accurate network modeling and advanced algorithms make TEMS CellPlanner key to competing successfully in the mobile communications marketplace.

TEMS CellPlanner provides full support for voice and data services in GSM, WCDMA and WiMAX . It provides support for GPRS and EDGE implemented in GSM systems, HSDPA/EUL(HSUPA) including the latest release of the HSDPA (phase2) implemented in WCDMA systems, and the PUSC (Partial Usage of Subcarriers) feature in WiMAX.
Use TEMS CellPlanner to:
Plan, design, and optimize networks
Analyze coverage and interference
Plan and optimize network with live interference and traffic data
Analyze TEMS logfile data and autotune propagation models
Utilize drive test data with the Automatic Measurement Integrator (AMI), which keeps pathloss prediction constantly updated and drive test measurements effectively reused
Optimize inter- and intra-technology neighbor cell relationships
Review network capacity planning and optimization for voice and data services
Create scripts and improve work efficiency
Perform Automatic Frequency Planning (AFP)
Optimize WCDMA networks with Automatic Cell Planning (ACP)
Connect Planning tool and live system using OSS RC WCDMA Interface

Kamis, 08 Mei 2008

Frekuensi Hopping di GSM

Frekuensi Hopping (FH) adalah teknik dimana frekuensi yang digunakan oleh sepasang base station dan mobile station diubah pada interval waktu yang teratur. Setiap burst dalam physical channel akan ditransmisikan pada frekuensi carrier yang berbeda dalam tiap frame TDMA, dan tiap frame TDMA akan ditransmisikan pada frekuensi yang berbeda.
Namun perlu diingat ada logical channel yang tidak dihopping yaitu kanal BCCH (Broadcast Control Channel), FCH (Frequency Correction Channel), dan SCH (Synchronization Channel) karena kanal ini harus selalu dipancarkan dengan daya maksimum disebabkan merupakan signalling utama.

Parameter FH :

1. MA (Mobile Allocation) = merupakan sekumpulan daftar frekuensi tertentu yang digunakan dalam hopping sequence. Sekelompok MS ditentukan oleh sebuah MA.

2. MAI (Mobile Allocation Index) = index pertukaran yang diperoleh dari algoritma FH yang menunjukkan frekuensiaktif hopping dari daftar MA. MAI dikalkulasi oleh BTS dan MS menggunakan HSN, MAIO, dan frame number yang ada.

3. MAIO (Mobile Allocation Index Offset) = suatu frekuensi offset dalam MA dan berfungsi untuk menunjukkan pada frekuensi mana dalam MA FH tu dimulai. MAIO digunakan untuk menjamin bahwa tiap TCH menggunakan frekuensi berbeda selama proses hopping.

4 Hopping Group = sekumpulan timeslot (RSTL) yang menggunakan MA dan HSN yang sama dalam suatu sel.

5. HSN (Hopping Sequence Number) = berfungsi untuk menentukan bagaimana sistem pseudorandom akan mulai hopping. Tiap TCH yang berpindah ke frekuensi baru dalam MA, berdasarkan nomor HSNnya. HSN memberikan nomor algoritma untuk mengkalkulasi frekuensi yang akan digunakan untuk mentransmisikan TCH berikutnya dalam MA. Algoritma yang ada sampai dengan 63 algoritma HSN (jenis cyclic = 0 dan random = 1 s.d 63).

6. MAIO Step = parameter pilihan untuk meningkatkan kualitas pembagian daftar MA yang diperoleh dengan MAIO offset.

METODE HOPPING :

FH pada BSS dapat diimplementasikan menggunakan teknik Baseband Hopping (BB-FH) dan Synthesized Hopping (SFH).

1.
BB-FH , pada baseband semua transceiver beroperasi pada frekuensi yang tetap. FH dihasilkan dengan menswitch burst data baseband secara terus menerus di antara bagian radio TRX/TRU baik uplink maupun downlink. Kekurangannya dalam BB-FH adalah jumlah frekuensi hop yang terbatas pada jumlah TRX/TRU.

2.
SFH , dengan SFH semua transceiver terkecuali BCCH TRX-1, diset untuk mengubah frekuensinya frame per frame sesuai hopping sequence. Jumlah loncatan frekuensi yang melalui channel radio tidak terbatas oleh hardware yang digunakan, namun jumlahnya terbatas pada MA yang dialokasian berapa tergantung jatah dari tiap operator. Oleh karena itu hopping sequence dapat mengikutsertakan lebih banyak frekuensi pada TRX dalam suatu sel.

Quality service

Quality of Service dalam Data Komunikasi

Arif Hamdani Gunawan

Komunikasi data merupakan salah satu teknologi telekomunikasi yang berkembang sangat pesat, khususnya pada implementasi IP. Layanan-layanan yang berbasiskan IP juga ikut merasakan dampaknya dengan adanya standard-standard yang terus berkembang pada network layer ini, oleh karena itu komunikasi data juga mengalami akselerasi.

Banyak sekali aplikasi yang berbasiskan komunikasi data dan saat ini tidak hanya beroperasi di LAN (Local Area Network), tetapi juga di WAN (Wide Area Network). Aplikasi-aplikasi terebut membutuhkan suatu tingkat jaminan layanan (Quality of Service/QoS) untuk dapat beroperasi. Oleh karena itu, QoS sudah sepatutnya diketahui oleh banyak pihak, seperti penyedia infrastruktur, LAN administrator, WAN administrator, service provider, yang memang berhubungan dengan komunikasi data.

Tulisan ini akan mendiskusikan mengenai konsep dasar dari Quality of Service (QoS), mengapa kita membutuhkannya dan akan dipaparkan juga mengenai tipe-tipe mekanisme QoS secara sederhana.

Pengertian

QoS merupakan terminologi yang digunakan untuk mendefinisikan kemampuan suatu jaringan untuk menyediakan tingkat jaminan layanan yang berbeda-beda. Melalui Q0S, seorang network administrator dapat memberikan prioritas trafik tertentu. Suatu jaringan, mungkin saja terdiri dari satu atau beberapa teknologi data link layer yang mampu diimplementasikan QoS, misalnya; Frame Relay, Ethernet, Token Ring, Point-to-Point Protocol (PPP), HDLC, X.25, ATM, SONET. Setiap teknologi mempunyai karakteristik yang berbeda-beda yang harus dipertimbangkan ketika mengimplementasikan QoS. QoS dapat diimplementasikan pada situasi congestion management atau congestion avoidance. Teknik-teknik congestion management digunakan untuk mengatur dan memberikan prioritas trafik pada jaringan di mana aplikasi meminta lebih banyak lagi bandwidth daripada yang mampu disediakan oleh jaringan. Dengan menerapkan prioritas pada berbagai kelas dari trafik, teknik congestion management akan mengoptimalkan aplikasi bisnis yang kritis atau delay sensitive untuk dapat beroperasi sebagai mana mestinya pada lingkungan jaringan yang memiliki kongesti. Adapun teknik collision avoidance akan membuat mekanisme teknologi tersebut menghindari situasi kongesti. Melalui implementasi QoS di jaringan ini, network administrator akan memiliki fleksibilitas yang tinggi untuk mengontrol aliran dan kejadian-kejadian yang ada di trafik pada jaringan.

QoS merupakan peralatan-peralatan yang tersedia untuk menerapkan berbagai jaminan, dimana tingkat minimum layanan dapat disediakan. Banyak protokol dan aplikasi yang tidak begitu sensitif terhadap network congestion. File Transfer Protocol (FTP) contohnya, mempunyai toleransi yang besar untuk network delay dan terbatasnya bandwidth. Di sisi user, kejadian tersebut akan menyebabkan proses transfer file seperti download atau upload yang lambat, walaupun mengganggu user, namun kelambatan ini tidak akan menggagalkan operasi dari aplikasi tersebut. Lain halnya dengan aplikasi-aplikasi baru sepertiVoice dan Video, yang pada umumnya sensitif terhadap delay. Jika paket dari voice mengalami proses yang lama untuk sampai ke tujuan, maka akan dapat merusak Voice yang didengarkan. Dalam hal ini QoS dapat digunakan untuk menyediakan jaminan layanan untuk aplikasi-aplikasi tersebut. SNA merupakan salah satu contoh protokol yang sangat sensitif dengan menggunakan protokol handshake dan biasanya akan melakukan terminasi dari session jika tidak memperoleh suatu acknowledgement, lain halnya dengan TCP/IP. Sehingga dalam kasus ini, memberikan prioritas pada trafik SNA di atas protokol lainnya akan memberikan QoS yang lebih baik.

Ada beberapa alasan mengapa kita memerlukan QoS, yaitu:

· Untuk memberikan prioritas untuk aplikasi-aplikasi yang kritis pada jaringan.

· Untuk memaksimalkan penggunaan investasi jaringan yang sudah ada.

· Untuk meningkatkan performansi untuk aplikasi-aplikasi yang sensitif terhadap delay, seperti Voice dan Video.

· Untuk merespon terhadap adanya perubahan-perubahan pada aliran trafik di jaringan.

Point terakhir nampaknya terasa tidak penting, benarkah demikian? Naptser, PointCast, World-Wide-Web adalah contoh aplikasi-aplikasi “self-deployed” yang dapat menyebabkan mimpi buruk bagi network administrator. Tidak seorang pun pernah merencanakan jalannya Web browsing seperti sekarang ini, hampir seluruh trafik di Internet membawa prefix “http”. Dengan adanya perubahan permintaan bandwidth, QoS dapat digunakan untuk menjamin kualitas layanan, jika beberapa user dalam suatu perusahaan sedang mendengarkan siaran radio lewat Internet, maka tidak akan memperlambat trafik penting yang ada ke perusahaan tersebut.

Metode paling sederhana yang sering digunakan untuk memperoleh performansi yang lebih baik pada jaringan adalah dengan meminta lebih banyak bandwidth. Saat ini Gigabit Ethernet dan Optical Networking sudah tersedia. Peningkatan bandwidth dapat menjadi solusi sementara untuk meningkatkan kualitas layanan, namun tidak akan dapat untuk menjamin kualitas layanan seterusnya. Aplikasi-aplikasi yang didukung oleh protokol-protokol yang ada akan terus meminta bandwidth lagi. Langkah tepat untuk kondisi demikian adalah menganalisa trafik yang lewat, mengidentifikasi urutan kepentingan dari protokol dan aplikasi di jaringan, dan menentukan strategi untuk memberikan prioritas untuk mengakses bandwidth yang tersedia. QoS akan membuat seorang network administator mengawasi bandwidth, latency dan jitter, serta memiinimisasi paket yang hilang pada suatu newtwork, dengan memberikan prioritas pada protokol. Bandwidth adalah ukuran kapasitas pada suatu jaringan atau link. Latency adalah delay dari suatu paket untuk melewati jaringan. Jitter adalah perubahan latency pada suatu periode waktu. Melalui penerapan teknik-teknik QoS, maka akan dapat dilakukan pengaturan dari ketiga parameter di atas.

Saat ini di kebanyakan jaringan di perkantoran tidak begitu memperhatikan QoS. Namun, dengan berkembangnya aplikasi-aplikasi, misalnya mulicast, streaming multimedia, dan Voice over IP (VoIP) kebutuhan akan QoS akan semakin terasa. Terlebih lagi aplikasi-aplikasi tersebut terhadap jitter dan delay dan performansi yang buruk akan sangat terasa pada end user. Dalam hal ini seorang network administrator dapat melakukan tindakan manajemen proaktif untuk aplikasi-aplikasi sensitif yang baru dengan mengaplikasikan teknik-teknik QoS pada jaringan. Penting untuk diketahui, bahwa QoS bukanlah solusi yang ajaib untuk setiap masalah kongesti, karena dapat saja solusi terbaik untuk mengatasi congested network memang adalah melakukan upgrade pada bandwidth.

Tingkatan QoS

Terdapat 3 tingkat QoS yang umum dipakai, yaitu best-effort service, integrated service dan differentiated service. Ketiga level tersebut akan diuraikan lebih detail dibawah ini.

Best-Effort Service

Best-effort service digunakan untuk melakukan semua usaha agar dapat mengirimkan sebuah paket ke suatu tujuan. Penggunakan best-effort service tidak akan memberikan jaminan agar paket dapat sampai ke tujuan yang dikehendaki. Sebuah aplikasi dapat mengirimkan data dengan besar yang bebas kapan saja tanpa harus meminta ijin atau mengirimkan pemberitahuan ke jaringan. Beberapa aplikasi dapat menggunakan best-effort service, sebagai contohnya FTP dan HTTP yang dapat mendukung best-effort service tanpa mengalami permasalahan. Untuk aplikasi-aplikasi yang sensitif terhadap network delay, fluktuasi bandwidth, dan perubahan kondisi jaringan, penerapan best-effort service bukanlah suatu tindakan yang bijaksana. Sebagai contohnya aplikasi telephony pada jaringan yang membutuhkan besar bandwidth yang tetap, 0agar dapat berfungsi dengan baik; dalam hal ini penerapan best-effort akan mengakibatkan panggilan telephone gagal atau terputus.

Integrated Service

Model integrated service menyediakan aplikasi dengan tingkat jaminan layanan melalui negosiasi parameter-parameter jaringan secara end-to-end. Aplikasi-aplikasi akan meminta tingkat layanan yang dibutuhkan untuk dapat beroperasi dan bergantung pada mekanisme QoS untuk menyediakan sumber daya jaringan yang dimulai sejak permulaan transmisi dari aplikasi-aplikasi tersebut. Aplikasi tidak akan mengirimkan trafik, sebelum menerima tanda bahwa jaringan mampu menerima beban yang akan dikirimkan aplikasi dan juga mampu menyediakan QoS yang diminta secara end-to-end. Untuk itulah suatu jaringan akan melakukan suatu proses yang disebut admission control. Admission control adalah suatu mekanisme yang mencegah jaringan mengalami over-loaded. Jika QoS yang diminta tidak dapat disediakan, maka jaringan tidak akan mengirimkan tanda ke aplikasi agar dapat memulai untuk mengirimkan data. Jika aplikasi telah memulai pengiriman data, maka sumber daya pada jaringan yang sudah dipesan aplikasi tersebut akan terus dikelola secara end-to-end sampai aplikasi tersebut selesai.

Cisco Internetwork Operating System (IOS) mempunyai dua fitur untuk menyediakan layanan terintegrasi untuk mengawasi beban yang ditanggung di jaringan, yaitu Resource Reservation Protocol (RSVP) dan Intelligent Queuing. Saat ini RSVP sudah menjadi salah satu standard yang dikeluarkkan oleh salah satu working group dari Internet Engineering Task Force (IETF). Intelligent queueing yang serting digunakan adalah Weighted fair queuing (WFQ) dan Weighted Random Early Detection (WRED). Penting untuk diketahui bahwa baik RSVP maupun Intelligent Queuing bukanlah merupakan routing protocol. RSVP akan bekerja sama dengan routing protocol untuk menentukan jalur yang terbaik di jaringan untuk dapat diberikan QoS.

Differentiated Service

Model terakhir dari QoS adalah model differentiated service. Differentiated service menyediakan suatu set perangkat klasifikasi dan mekanisme antrian terhadap protokol-protokol atau aplikasi-aplikasi dengan prioritas tertentu di atas jaringan yang berbeda. Differentiated service bergantung pada kemampuan edge router untuk memberikan klasifikasi dari paket-paket yang berbeda tipenya yang melewati jaringan. Trafik jaringan dapat diklasifikasikan berdasarkan alamat jaringan, protocol dan port, ingress interface, atau klasifikasi lainnya selama masih didukung oleh standard access list atau extended access list.

Congestion Management

Congestion management merupakan terminologi umum yang mencakup penggunaan strategi antrian untuk mengatur situasi di mana permintaan akan bandwidth lebih besar daripada bandwidth yang dapat disediakan oleh jaringan. Beberapa teknik congestion management yang sering digunakan adalah:

· First In First Out Queuing (FIFO)

· Priority Queuing

· Custom Queuing

· Weighted Fair Queuing (WFQ)

Priority Queuing dan Custom Queuing memerlukan perencanaan dasar untuk implementasi dan konfigurasi secara benar di router. Perencanaan yang salah bahkan dapat mengakibatkan terjadinya kongesti. Sedangkan FIFO dan WFQ memerlukan sedikit konfigurasi, Pada Cisco IOS, secara default WFQ berfungsi pada link dengan kecepatan E1 (2,048 Mbps) atau di bawahnya; dan secara default FIFO berfungsi pada link dengan kecepatan di atas kecepatan E1.

Konsep Antrian

Konsep antrian diterapkan di router dan akan menahan paket di dalam router, sampai dengan sumber daya yang ada mencukupi untuk mengirimkan paket tersebut. Jika tidak terdapat kongesti pada router, maka paket akan segera dikirimkan. Antrian di jaringan dapat dianalogikan dengan sistem pengantrian pembelian karcis film di bioskop, jika tidak ada orang yang sedang mengantri untuk membeli tiket, maka kita dapat langsung ke depan untuk membeli tiket tersebut tanpa harus mengantri, hal ini berarti tidak terjadi kongesti di jaringan.

Pada router yang mempunyai FastEthernet LAN dan E1 WAN sangat memungkinkan pada suatu waktu untuk terjadi antrian, hal ini disebabkan karena kecepatan interface FastEthernet LAN dengan E1 WAN tidak sama, sering dikenal dengan istilah speed-match. Speed-match ini bukanlah sesuatu yang mutlak untuk dihindari pada kondisi ini, kita harus melihat frekuensi dan potensi speed-match yang menyebabkan terjadinya kongesti pada router. Namun demikian, pada teknologi switch di data link layer, sedapat mungkin kita memang menghindari adanya speed-match.

Leaky Bucket

Leaky bucket atau ember yang bocor adalah konsep dasar untuk dapat mengetahui mengenai teori antrian. Kucuran air yang menetes atau mengalir ke ember secara acak dapat dianalogikan sebagai trafik kedatangan yang random. Sedangkan tetesan air dari ember yang bocor dapat dianalogikan dengan trafik yang keluar. Jika kucuran air ke dalam ember sangat deras, maka ember akan tergenang air dianalogikan dengan antrian yang ada.

Bagaimana jika kucuran air yang ke ember jauh lebih besar daripada tetesan air yang keluar dari ember? Tentu saja ember akan terisi oleh air. Lantas, apa yang terjadi jika ember penuh dengan air dan air terus mengucur ke ember? Tentu saja air akan melimpah. Hal ini juga terjadi di komunikasi data, jika antrian paket sudah tidak dapat ditangani lagi oleh memori di router, sedangkan kedatangan paket yang ada masih tetap tinggi, maka akan ada paket yang ‘melimpah’, karena tidak tertangani.

Network administrator dapat melakukan konfigurasi dari besarnya antrian yang dibutuhkan. Pada Cisco IOS, sudah terdapat suatu default untuk besar antrian tersebut. Jika paket yang datang lebih besar daripada kapasitas yang dapat ditangani oleh router, maka router akan melakukan drop pada paket yang sudah tidak dapat ditanganinya lagi. Protokol-protokol yang berada di layer atas mendukung pemberitahuan dan proses re-transmisi untuk mengidentifikasi adanya paket yang drop lalu melakukan retransmisi. Drop tidak selalu berarti adanya kesalahan pada jaringan.Sebagai contoh, pada interface FastEthernet dengan kecepatan 100 Mbps yang akan mengirmkan banyak informasi secara cepat ke interface E1 dengan kecepatan 2,048 Mbps. Drop dari paket-paket yang mungkin terjadi dapat digunakan oleh protokol-protokol yang berada di layer atas untuk mengurangi kecepatan pengiriman ke router. Beberapa mekanisme QoS seperti Random Early Detection (RED) dan Weighted Random Early Detection (WRED) mengunakan prinsip-prinsip tersebut untuk mengontrol tingkat kongesti yang terjadi di jaringan.

Drop paket berarti menuntut adanya retransmisi, dan ini akan menimbulkan suatu fenomena baru yang dikenal dengan global synchronization. Global synchronization terjadi, karena interaksi dari mekanisme di layer atas dari TCP/IP, yang disebut dengan sliding window. Jika blok-blok data berhasil dikirimkan tanpa adanya error, maka window atau jendela akan maju ke blok berikutnya, untuk kemudian mengirimkan blok data selanjutnya, sehingga hal ini dinamakan sliding window. Jika error terjadi saat pengiriman, maka window akan bergerak mundur untuk mengirimkan kembali blok yang mengalami error. Komunikasi ini akan menggunakan semua bandwidth yang tersedia, di mana dapat menyebabkan antrian paket menjadi drop. Paket-paket yang mengalami drop diintepretasikan sebagai transmission error, yang secara simultan akan menyebabkan berkurangnya ukuran window untuk pengiriman paket selanjutnya pada setiap interval. Global synchronization ini menyebabkan fluktuasi pada penggunaan jaringan, seperti dapat dilihat pada gambar berikut ini.


Penutup

Implementasi QoS sebenarnya merupakan suatu hal yang sederhana pada jaringan komunikasi data, namun pada kenyataanya QoS merupakan salah satu hal yang paling tidak diperhatikan. Permasalahan kongesti seringkali dianalogikan kepada permasalahan bandwidth, dan dijawab dengan peningkatan bandwidth. Dengan penerapan QoS, maka akan dapat diberikan jaminan layanan kepada aplikasi yang dijalankan oleh end user. Melalui QoS ini, nantinya juga dapat dilakukan kontrol dan fungsi manajemen pada jaringan.

Advantages of CDMA

CDMA2000 benefited from the extensive experience acquired through several years of operation of cdmaOne systems. As a result, CDMA2000 is a very efficient and robust technology. Supporting both voice and data, the standard was devised and tested in various spectrum bands, including the new IMT-2000 allocations.

There is tremendous demand for new services and operators are looking to provide these to many more subscribers at reasonable prices.

The unique features, benefits, and performance of CDMA2000 make it an excellent technology for high-voice capacity and high-speed packet data. The fact that CDMA2000 1X has the ability to support both voice and data services on the same carrier makes it cost effective for wireless operators.

Due to its optimized radio technology, CDMA2000 enables operators to invest in fewer cell sites and deploy them faster, ultimately allowing the service providers to increase their revenues with faster Return On Investment (ROI). Increased revenues, along with a wider array of services, make CDMA2000 the technology of choice for service providers.

Increased Voice Capacity
Voice is the major source of traffic and revenue for wireless operators, but packet data will emerge in coming years as animportant source of incremental revenue. CDMA2000 delivers the highest voice capacity and packet data throughput using the least amount of spectrum for the lowest cost.

CDMA2000 1X supports 35 traffic channels per sector per RF (26 Erlangs/sector/RF) using the EVRC vocoder, which became commercial in 1999.

Voice capacity improvement in the forward link is attributed to faster power control, lower code rates (1/4 rate), and transmit diversity (for single path Rayleigh fading). In the reverse link, capacity improvement is primarily due to coherent reverse link.

Click here for more information on CDMA capacity

Higher Data Throughput
Today's commercial CDMA2000 1X networks (phase 1) support a peak data rate of 153.6 kbps. CDMA2000 1xEV-DO, commercial in Korea, enables peak rates of up to 2.4 Mbps and CDMA2000 1xEV-DV will be capable of delivering data of 3.09 Mbps.

Frequency Band Flexibility
CDMA2000 can be deployed in all cellular and PCS spectrum. CDMA2000 networks have already been deployed in the 450 MHz, 800 MHz, 1700 MHz, and 1900 MHz bands; deployments in 2100 MHz and other bands are expected in 2004. CDMA2000 can also be implemented in other frequencies such as 900 MHz, 1800 MHz and 2100 MHz. The high spectral efficiency of CDMA2000 permits high traffic deployments in any 1.25 MHz channel of spectrum.

Increased Battery Life
CDMA2000 significantly enhances battery performance. Benefits include:

  • Quick paging channel operation
  • Improved reverse link performance
  • New common channel structure and operation
  • Reverse link gated transmission
  • New MAC states for efficient and ubiquitous idle time operation

Synchronization
CDMA2000 is synchronized with the Universal Coordinated Time (UCT). The forward link transmission timing of all CDMA2000 base stations worldwide is synchronized within a few microseconds. Base station synchronization can be achieved through several techniques including self-synchronization, radio beep, or through satellite-based systems such as GPS, Galileo, or GLONASS. Reverse link timing is based on the received timing derived from the first multipath component used by the terminal.

There are several benefits to having all base stations in a network synchronized:

  • The common time reference improves acquisition of channels and hand-off procedures since there is no time ambiguity when looking for and adding a new cell in the active set.
  • It also enables the system to operate some of the common channels in soft hand-off, which improves the efficiency of the common channel operation.
  • Common network time reference allows implementation of very efficient "position location" techniques.

Power Control
The basic frame length is 20 ms divided into 16 equal power control groups. In addition, CDMA2000 defines a 5 ms frame structure, essentially to support signaling bursts, as well as 40 and 80 ms frames, which offer additional interleaving depth and diversity gains for data services. Unlike IS-95 where Fast Closed Loop Power Control was applied only to the reverse link, CDMA2000 channels can be power controlled at up to 800 Hz in both the reverse and forward links. The reverse link power control command bits are punctured into the F-FCH or the F-DCCH (explained in later sections) depending on the service configuration. The forward link power control command bits are punctured in the last quarter of the R-PICH power control slot.

In the reverse link, during gated transmission, the power control rate is reduced to 400 or 200 Hz on both links. The reverse link power control sub-channel may also be divided into two independent power control streams, either both at 400 bps, or one at 200 bps and the other at 600 bps. This allows for independent power control of forward link channels.

In addition to the closed loop power control, the power on the reverse link of CDMA2000 is also controlled through an Open Loop Power Control mechanism. This mechanism inverses the slow fading effect due to path loss and shadowing. It also acts as a safety fuse when the fast power control fails. When the forward link is lost, the closed loop reverse link power control is "freewheeling" and the terminal disruptively interferes with neighboring. In such a case, the open loop reduces the terminal output power and limits the impact to the system. Finally the Outer Loop Power drives the closed loop power control to the desired set point based on error statistics that it collects from the forward link or reverse link. Due to the expanded data rate range and various QoS requirements, different users will have different outer loop thresholds; thus, different users will receive different power levels at the base station. In the reverse link, CDMA2000 defines some nominal gain offsets based on various channel frame format and coding schemes. The remaining differences will be corrected by the outer loop itself.

Soft Hand-off
Even with dedicated channel operation, the terminal keeps searching for new cells as it moves across the network. In addition to the active set, neighbor set, and remaining set, the terminal also maintains a candidate set.

When a terminal is traveling in a network, the pilot from a new BTS (P2) strength exceeds the minimum threshold TADD for addition in the active set. However, initially its relative contribution to the total received signal strength is not sufficient and the terminal moves P2 to the candidate set. The decision threshold for adding a new pilot to the active set is defined by a linear function of signal strength of the total active set. The network defines the slope and cross point of the function. When strength of P2 is detected to be above the dynamic threshold, the terminal signals this event to the network. The terminal then receives a hand-off direction message from the network requesting the addition of P2 in the active set. The terminal now operates in soft hand-off.

The strength of serving BTS (P1) drops below the active set threshold, meaning P1 contribution to the total received signal strength does not justify the cost of transmitting P1. The terminal starts a hand-off drop timer. The timer expires and the terminal notifies the network that P1 dropped below the threshold. The terminal receives a hand-off message from the network moving P1 from the active set to the candidate set. Then P1 strength drops below TDROP and the terminal starts a hand-off drop timer, which expires after a set time. P1 is then moved from candidate set to neighbor set. This step-by-step procedure with multiple thresholds and timers ensures that the resource is only used when beneficial to the link and pilots are not constantly added and removed from the various lists, therefore limiting the associated signaling.

In addition to intrasystem, intrafrequency monitoring, the network may direct the terminal to look for base stations on a different frequency or a different system. CDMA2000 provides a framework to the terminal in support of the inter- frequency handover measurements consisting of identity and system parameters to be measured. The terminal performs required measurements as allowed by its hardware capability.

In case of a terminal with dual receiver structure, the measurement can be done in parallel. When a terminal has a single receiver, the channel reception will be interrupted when performing the measurement. In this instance, during the measurement, a certain portion of a frame will be lost. To improve the chance of successful decoding, the terminal is allowed to bias the FL power control loop and boost the RL transmit power before performing the measurement. This method increases the energy per information bit and reduces the risk of losing the link in the interval. Based on measurement reports provided by the terminal, the network then decides whether or not to hand-off a given terminal to a different frequency system. It does not release the resource until it receives confirmation that hand-off was successful or the timer expires. This enables the terminal to come back in case it could not acquire the new frequency or the new system.

Transmit Diversity
Transmit diversity consists of de-multiplexing and modulating data into two orthogonal signals, each of them transmitted from a different antenna at the same frequency. The two orthogonal signals are generated using either Orthogonal Transmit Diversity (OTD) or Space-Time Spreading (STS). The receiver reconstructs the original signal using the diversity signals, thus taking advantage of the additional space and/or frequency diversity.

Another transmission option is directive transmission. The base station directs a beam towards a single user or a group of users in a specific location, thus providing space separation in addition to code separation. Depending on the radio environment, transmit diversity techniques may improve the link performance by up to 5 dB.

Voice and Data Channels
The CDMA2000 forward traffic channel structure may include several physical channels:

  • The Fundamental Channel (F-FCH) is equivalent to functionality Traffic Channel (TCH) for IS-95. It can support data, voice, or signaling multiplexed with one another at any rate from 750 bps to 14.4 kbps.
  • The Supplemental Channel (F-SCH) supports high rate data services. The network may schedule transmission on the F-SCH on a frame-by- frame basis, if desired.
  • The Dedicated Control Channel (F-DCCH) is used for signaling or bursty data sessions. This channel allows for sending the signaling information without any impact on the parallel data stream.

The reverse traffic channel structure is similar to the forward traffic channel. It may include R-PICH, a Fundamental Channel (R-FCH), and/or a Dedicated Control Channel (R-DCCH), and one or several Supplemental Channels (R-SCH). Their functionality and encoding structure is the same as for the forward link with data rates ranging from 1 kbps to 1 Mbps (It is important to note that while the standard supports a maximum data rate of 1 Mbps, existing products are supporting a peak data rate of 307 kbps).

Traffic Channel
The traffic channel structure and frame format is very flexible. In order to limit the signaling load that would be associated with a full frame format parameter negotiation, CDMA2000 specifies a set of channel configurations. It defines a spreading rate and an associated set of frames for each configuration.

The forward traffic channel always includes either a fundamental channel or a dedicated control channel. The main benefit of this multichannel forward traffic structure is the flexibility to independently set up and tear down new services without any complicated multiplexing reconfiguration or code channel juggling. The structure also allows different hand-off configurations for different channels. For example, the F-DCCH, which carries critical signaling information, may be in soft hand-off, while the associated F-SCH operation could be based on a best cell strategy.

Supplemental Channels
One key CDMA2000 1X feature is the ability to support both voice and data services on the same carrier. CDMA2000 operates at up to 16 or 32 times the FCH rate-also referred to as 16x or 32x in Release 0 and A, respectively. In contrast to voice calls, the traffic generated by packet data calls is bursty, with small durations of high traffic separated by larger durations of no traffic. It is very inefficient to dedicate a permanent traffic channel to a packet data call. This burstiness impacts the amount of available power to the voice calls, possibly degrading their quality if the system is not engineered correctly. Hence, a key CDMA2000 design issue is assuring that a CDMA channel carrying voice and data calls simultaneously do so with negligible impact to the QoS of both.

Supplemental Channels (SCHs) can be assigned and deassigned at any time by the base station. The SCH has the additional benefit of improved modulation, coding, and power control schemes. This allows a single SCH to provide a data rate of up to 16 FCH in CDMA2000 Release 0 (or 153.6 kbps for Rate Set 1 rates), and up to 32 FCH in CDMA2000 Release A (or 307.2 kbps for Rate Set 1 rates). Note that each sector of a base station may transmit multiple SCHs simultaneously if it has sufficient transmit power and Walsh codes. The CDMA2000 standard limits the number of SCHs a mobile station can support simultaneously to two. This is in addition to the FCH or DCCH, which are set up for the entire duration of the call since they are used to carry signaling and control frames as well as data. Two approaches are possible: individually assigned SCHs, with either finite or infinite assignments, or shared SCHs with infinite assignments.

For bursty and delay-tolerant traffic, assigning a few scheduled fat pipes is preferable to dedicating many thin or slow pipes. The fat-pipe approach exploits variations in the channel conditions of different users to maximize sector throughput. The more sensitive the traffic becomes to delay, such as voice, the more appropriate the dedicated traffic channel approach becomes.

Turbo Coding
CDMA2000 provides the option of using either turbo coding or convolutional coding on the forward and reverse SCHs. Both coding schemes are optional for the base station and the mobile station, and the capability of each is communicated through signaling messages prior to the set up of the call. In addition to peak rate increase and improved rate granularity, the major improvement to the traffic channel coding in CDMA2000 is the support of turbo coding at rate 1/2, 1/3, or 1/4. The turbo code is based on 1/8 state parallel structure and can only be used for supplemental channels and frames with more than 360 bits. Turbo coding provides a very efficient scheme for data transmission and leads to better link performance and system capacity improvements. In general, turbo coding provides a performance gain in terms of power savings over convolutional coding. This gain is a function of the data rate, with higher data rates generally providing more turbo coding gain.

Bluetooth

BLUETOOTH


"Bluetooth" adalah sebuah standart baru yang diluncurkan oleh The Bluetooth SIG (Special Interest Group) pada bulan Mei 1998. The Bluetooth SIG ini terbentuk dari lima perusahaan besar.

Standart baru dalam wireless networking yang mereka luncurkan pada dasarnya adalah menggunakan hubungan radio jarak dekat atau short-range radio link untuk pertukaran informasi, sehingga hubungan antar hp, mobile PC, PDA, dan lainnya dapat dilakukan tanpa gangguan kabel atau wireless.

Tujuan dari peluncuran bluetooth ini adalah untuk mengganti spesifikasi IrDA dari InfraRed pada hp dan peralatan mobile lainnya.


Ericsson memberikan sumbangan mereka pada teknologi radio,Toshiba dan IBM mengembangkan spesifikasi untuk mengintegrasi teknologi "Bluetooth" kedalam peralatan mobile.Intel menyumbangkan keahlian mereka dalam chip dan software sedangkan Nokia menyumbangkan keahlian mereka dalam teknologi radio dan mobile handset software.

Banyak perusahaan lain juga diundang untuk mendukung teknologi intinya sehingga diharapkan teknologi ini dapat dipakai dalam banyak peralatan.

Radio ini akan beroperasi pada 2.45 GHz ISM 'free band', yang memungkinkan pengguna internasional dengan peralatan yang dilengkapi dengan"Bluetooth" dapat menggunakan peralatan mereka dimana saja diseluh dunia.


Sistem Bluetooth:

· Beroperasi pada 2.4 GHz Industrial-Scientific-Medical (ISM) band.

· Rangenya antara 10m s/d 100m

· Menggunakan Frequence Hop (FH) spread spectrum, yang membagi frequency band ke beberapa hop channels.

· Dalam sebuah koneksi, radio transceivers hop dari satu channel ke channel lainnya

· Mendukung sampai dengan 8 peralatan dalam suatu piconet (dua atau lebih unit Bluetooth dalam channel bersamaan).

· Keamanan built in..

· Omni-directional.

· Isochronous and asynchronous , integrasi mudah dengan TCP/IP bagi networking.


Penggunaan:

akan menghubungkan ......:

· Printers

· Mobile Phones

· Handsfree Headsets

· LCD projectors

· Modems

· Wireless LAN devices

· Notebooks

· Desktop PCs

· PDAs

· dll

....satu sama lainnya via Bluetooth short-range radio modules yang ada pada setiap peratan tersebut.

GPRS

GPRS (General Packet Radio Services)


Teknologi transmisi data GSM berupa GPRS(General Packet Radio Services) adalah sebuah teknologi yang dipergunakan untuk pelayanan data wireless seperti pada wireless internet atau intranet serta pelayanan multimedia.

"
Alat komunikasi dengan GSM GPRS mempunyai fasilitas pertukaran data sampai dengan kecepatan 170kbps "

Juga biasanya disebut sebagai GSM-IP(internet Protocol), karena akan menghubungkan pengguna dengan ISP (Internet Service Provider).

Salah satu keuntungan dari teknologi baru ini adalah, pengguna akan selalu terhubung atau connected. Selalu online, tetapi akan dikenai biaya hanya dari besarnya data yang ditransmisi. Dengan teknologi ini panggilan secara voice dapat dilakukan secara bersamaan dengan transmisi data. Tetapi ini tergantung dari jenis hp yang digunakan.

Banyak pembuat hp telah menggunakan teknologi ini pada hpnya. Seperti Erricson, Nokia, Siemens, Sagem, Alcatel, Samsung, Motorola dan sebagainya.

GPRS merupakan suatu tambahan pelayanan baru pada network yang telah ada. Dengan GPRS , para operator network GSM dapat memberikan pelayanan kompetitif untuk pertukaran data, sehingga melengkapi jasa pelayanan yang mereka berikan.

Teknologi ini sedang berkembang, dan tentu saja seperti teknologi pada dunia wireless lainnya, teknologi ini akan berkembang sangat cepat. Seperti GPRS roaming yang merupakan kebutuhan dasar untuk terwujudnya global mobile internet bagi pelanggan GPRS pada berbagai operator GPRS network pada masa yang akan datang. Ini diterapkan pada GRX, yang merupakan suatu IP routing network tersentralisasi untuk interkoneksi antar GPRS network. Sistem GRX yang berdasarkan GPRS roaming telah berhasil dilakukan antara Sistem roaming Sonera dengan network dari Nokia.

Tentu saja banyak perusahaan besar lainnya terus mengembangkan sistem ini, yang pada akhirnya mudah2an dapat menguntungkan konsumen.

Fitur-fitur/features penting di GPRS

General Packet Radio Service (GPRS) adalah sebuah jasa pelayanan tambah berupa nonvoice yang memungkinkan informasi dapat dikirim dan diterima pada sebuah mobile telephone network. Sistem ini menambahkan fasilitas baru dari apa yang ada sekarang yaitu Circuit Switched Data and Short Message Service. GPRS tidak ada hubungannya dengan GPS (the Global Positioning System). Beberapa features unik GPRS adalah sebagai berikut :

KECEPATAN

Secara teoritis kecepatan maksimum sistem ini 171.2 kilobytes per second (kbps). Ini adalah adalah 3 kali lebih cepat dari transmisi data dari sistem network telekomunikasi fixed yang ada dan 10 kali lebih cepat dari Circuit Switched Data pada sistem network telekomunikasi wireless GSM saat ini.Dengan kecepatan pengiriman data, maka sistem ini tentu saja akan memberikan pelayanan yang lebih murah dibanding dengan SMS atau Circuit Switched Data.

SELALU TERSEDIA

GPRS adalah sebuah sistem yang terhubung terus, dimana informasi dapat segera dikirim atau diterima saat diperlukan. Tidak perlu adanya dial-up modem. Karena itu seperti telah diterangkan diatas sebelumnya, GPRS adalah sebuah sistem yang "always connected".

APLIKASI BARU YANG LEBIH BAIK

GPRS memberikan fasilitas baru untuk beberapa aplikasi yang sebelumnya tidak ada pada network GSM, karena adanya keterbatasan pada kecepatan di Circuit Switched Data (9.6 kbps) dan panjang message/berita pada Short Message Service (160 characters). GPRS akan dapat secara penuh mengaplikasi internet seperti yang biasa kita dapatkan di desktop komputer, dari web browsing sampai dengan chat. Selain itu GPRS akan memberikan kemudahan transfer file, dan home automation yaitu dengan dapatnya kita mengontrol alat2 dirumah kita secara remote dari daerah diluar rumah kita sendiri.

MENGGUNAKAN GPRS

Untuk dapat menggunakan GPRS, diperlukan beberapa hal yaitu:

  • Hp atau terminal dengan sistem GPRS (banyak telepon baru yang telah menyediakan sistem ini)
  • Mendaftar pada operator network dengan sistem GPRS
  • Penggunaan GPRS harus telah diizinkan oleh operator network bersangkutan.
  • Pengetahuan tentang bagaimana mengirim dan menerima informasi GPRS dengan hp yang dimiliki.
  • Sebuah tujuan untuk mengirim atau menerima informasi melalui GPRS. Kalau pada SMS biasanya tujuan ini adalah hp orang lain, maka pada GPRS kemungkinan tujuan yang paling banyak adalah alamat pada internet, karena GPRS didisain agar internet dapat digunakan oleh pemegang hp.

Search Another

Blog search