Jadwal Sholat

jadwal-sholat

Search

Jumat, 27 November 2015

Identifikasi Masalah Uplink Throughput LTE

Pernahkan anda suatu ketika menemukan throughput uplink LTE yang aneh tidak seperti biasanya di suatu site?Aneh yang dimaksud adalah jauh di bawah biasanya yang pernah didapatkan pada site-site lainnya, padahal kondisi radionya seperti RSRP, CINR, CQI sudah bagus, namun MCS yang peroleh selalu mentok di QPSK yang menyebabkan kita tidak bisa mendapatkan UL Throughput yang tinggi.
Kira-kira apa penyebabnya?

Mari kita sama-sama menganalisis masalah UL ini...

1. Lakukan cek parameter BTS yang ada site (enode B) tersebut, apakah semuanya sudah sesuai standar? apakah ada yang perbedaan yang significant dengan parameter site lainnya.
2. Cek apakah ada Interference pada UL dengan  meminta report RSSI, cell yang mempunyai interference pada UL memiliki RSSI di bawah -105 dbm misalnya. (di bawah -105 itu = -106,-107,-110 ,-120 dst ya jangan kebalik).
3.  Cek Parameter P0-nominalPUCCH dan P0-nominalPUSCH , bandingkan dengan site lainnya.
4. Cek nilai BLER sebaiknya tidak lebih dari 10%, bila tinggi maka itu menandakan keadaan RF (kondisi radio) yang buruk., atau bisa juga karena bad coverage ada holes.
5. Lihat demand RRC connection yang ada, apakah sangat rendah atau normal?
  1. Maximum number of RRC connections supported per cell (parameter or feature)
  2. Maximum number of RRC connections active per cell
  3. Average number of RRC connections active per cell
  4. Maximum number of users per TTI supported per cell (parameter or feature)
  5. Maximum number of users scheduled per TTI in the cell(s) of interest
  6. Average number users scheduled per TTI in the cell(s) of interest
Jika max number of RRC connection active per cell mendekati atau sama dengan max number of RRC connection supported maka penyebab throughput rendah adalah load nya

6. Cek tipe scheduler yang dipakai seperti round robin, proportional fair, maximum C/I, dll samakan saja dengan site lain di sekitarnya. Scheduler yang tidak cocok dengan site dapat menyebabkan throughput yang buruk.
7. Cek power headroom yang UE gunakan di jaringan, bila nilainya rendah berarti UE tidak cukup power untuk transmit di sisi uplink dan oleh sebab itu throughputnya rendah. Nilai rendah dari power headroom berkisar 5 dB atau kurang.
8. Cek report VSWR (cek apakah ada alarm VSWR atau run reportnya)
Cek backhaul capacity apakah linknya dishare antar RAT atau sudah di dimensioning secara baik.

Jadi kita sudah dapat menentukan alasan mengapa low thp pada uplink ini terjadi, bisa disebabkan karena hal-hal sbb 
  • BLER (Bad coverage) : atur tilting antena
  • Uplink Interference (High RSSI) : cek PCI
  • Low Power Headroom : cek perangkat UE, antena port, setting attenuator
  • Scheduling Algorithm : sesuaikan dengan site lainnya
  • Low demand : cek setingan max num rrc conn apakah sudah wajar
  • Others (VSWR, Backhaul Capacity)

Sekian semoga membantu permasalahan uplink low throughput ini.

Kamis, 21 Mei 2015

LTE Random Access Procedure

Sekilas tentang Random Access Procedure (contention based)



Langkah pertama :

  • UE memilih 1 dari 64 RACH preamble yang tersedia  
  • UE harus menginformasikan identitasnya ke jaringan dengan menggunakan RA-RNTI (Random access radio network temporary identity). RA-RNTI ditentukan dari time slot number dimana preamble dikirimkan.
  • Jika UE tidak menerima respon dari enode B, maka yang dilakukannya adalah meningkatkan power secara bertahap dan mengirimkan kembali RACH preamblenya. Ini sama dengan seperti kita memanggil seseorang namun ia tidak menoleh sehingga kita mengeraskan kembali panggilan kita ke orang tsb.

Langkah kedua :
  • enodeB menjawab UE dengan mengirimkan Random Access Response melalui Downlink share channel (DL-SCH) dialamatkan ke RA-RNTI tadi yang dihitung dari timeslot yang disebutkan di langkah pertama tadi yaitu saat preamble dikirimkan.
  • Apa isi message dari respon enode B tsb? isinya adalah 
  1. Temporary C-RNTI : enode B memberikan identitas baru ke UE yang disebut temporary C-RNTI (cell radio network temporary identity) untuk komunikasi lebih lanjut.
  2. Timing Advance Value : enode B juga menginformasikan UE untuk merubah timing-nya sehingga dapat menyesuaikan delay yang diakibatkan karena jarak antar UE dengan enodeB.
  3. Uplink Grant Resource : enode B akan memberikan initial resource ke UE sehingga UE dapat menggunakan UL-SCH (uplink shared channel)

Langkah ketiga :
  • Dengan menggunakan UL-SCH, UE mengirimkan RRC Connection Request message ke enodeB
  • UE diidentfikasi oleh temporary CRNTI (yang sudah diassigned oleh enode B di langkah sebelumnya)
  • Isi message dari UE ke enode B di step ini adalah : 
--UE identity (TMSI atau random value), TMSI digunakan jika UE sebelumnya terkoneksi ke jaringan yang sama, Dengan menggunakan value dari TMSI ini maka UE dapat diidentifikasikan di core network. Random Value digunakan UE ketika pertama kali terhubung ke jaringan. 
--Connection establishment cause

Langkah keempat :
  • enode B menjawab dengan contention resolution message ke UE dimana pesan UE sudah berhasil diterima dengan baik. Pesan itu diteruskan menuju TMSI value atau random number tetapi kali ini mengandung new C-RNTI yang akan digunakan untuk step berikutnya.


note: Contention Base ini adalah protokol di wireless communication yang membolehkan beberapa user menggunakan kanal radio yang sama tanpa pre coordination seperti konsep "listen before talk".
Kalau Non contention based artinya sama dengan dedicated preamble, sudah ditentukan preamblenya. (diaplikasikan untuk handover dan DL data arrival)
Pada prinsipnya alokasi 64 preamble itu dibagi untuk Dedicated dan Contention based.

Minggu, 15 Februari 2015

LTE Topic

Waduhhh sudah lama tidak update blog ini, maklum karena kesibukan yang semakin bertambah dari penulis (sok sibuk banget).

LTE (Long Term Evolution) adalah topik yang sedang hangat diperbincangkan saat ini di dunia kerja pertelekomunikasian di Indonesia, terang saja karena berbagai operator telekomunikasi berlomba-lomba untuk mengusung teknologi baru ini. Ada yang sudah launching dan kita bisa lihat iklannya seperti dari operator Telkomsel dan XL.
Di tahun ini pasti operator lainnya akan segera menyusul, mungkin mulai di pertengahan tahun 2015.

Dari sisi planning engineer, nanti akan ada beberapa ilmu LTE yang wajib/mandatory untuk kita ketahui dan kalau sempat mari dibahas satu persatu. Misalnya seperti :

-LTE air interface (PDCCH,PRACH,dll)
-PCI (Physical Cell ID),mod3
-Bandwidth 6 pilihan yang bisa digunakan (1.4 ,  3 , 5 , 10 , 15, 20 MHz)
-TA (Tracking Area)
-SSS
-PSS
-Downlink dan Uplink Reference Signal
-Resource Block (RB)
-Resource Element (RE)
-Cyclic Prefix
-Coverage RSRP, RSRQ, PDSCH (downlink throughput), PUSCH (uplink throughput)
-SINR
-MIMO
-OFDM (for downlink) dan SC-FDMA (in LTE for uplink)  ---> alasan PAPR (Peak to Average Power Ratio)

Belum lagi planning tool yang digunakan seperti Atoll,Unet,Netact,MCP, dll base on vendor.
begitu banyaknya parameter planning untuk dipelajari,,fiuhh mari dipilih saja apa yang perlu kita pelajari terlebih dahulu.

Nah sebenernya banyak ya bahasan LTE ini yang ga kan pernah habisnya ditulis maupun dipelajari, saya sendiri masih belajar memahaminya lebih lanjut lagi, makanya dengan menulisnya di sini pun saya juga sedang melakukan pembelajaran untuk diri sendiri.

 Ok semoga ke depan bisa dibahas lagi yah walau secara acak dari tema yang disebutkan di atas tadi.
Insha Allah bisa melawan rasa ngantuk dan malas di waktu luang hehehe...

 

Search Another

Amazone Stores

Blog search